Dialog tentang HIV-AIDS di LPPL Kartini 94.2 Fm Jepara

JEPARA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara, melalui Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Jepara, menargetkan tahun ini seratus persen seluruh desa sudah terbentuk Warga peduli Aids (WPA). Forum warga ini, bertugas untuk memberikan akses informasi yang benar mengenai HIV/AIDS serta memberikan akses layanan pemeriksaan gratis di sejumlah fasilitas kesehatan.

Hal ini sebagaimana disampaikan, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jepara, M. Fakhrudin, saat dialog interaktif di Radio Kartini, baru-baru ini. Dalam kesempatan itu, ia juga ditemani salah seorang yang terinfeksi HIV/AIDS (ODHA). “Untuk tahun ini, kita targetkan seluruh desa/kelurahan di Jepara sudah terbentuk forum WPA,” kata Fakhrudin.

Dikatakan, para ODHA di masing-masing desa dampingan, sekaligus dapat mensosialisasikan ke masyarakat jika penularan HIV-AIDS tidak semudah sebagaimana anggapan mereka. “Penularan HIV/AIDS melalui empat hal, dengan cairan sperma, cairan vagina, darah dan air susu ibu. Selain empat hal itu, tidak akan menular,” katanya.

Penuntasan penyebaran HIV/AIDS tegasnya, harus dimulai dengan dicari terlebih dahulu pengidapnya. Selanjutnya ODHA diberi pengertian agar berkomitmen untuk berobat dan tidak menularkannya ke orang lain. Dari 195 desa dan kelurahan yang ada di Jepara, sebagian besar sudah memiliki WPA. Tahun ini semua desa dan kelurahan ditargetkan sudah memiliki WPA. “Saat ini masih banyak ketakutan dan diskriminasi terhadap ODHA. Sehingga bagi ODHA lebih baik merahasiakan penyakitnya dari pada dikucilkan keluarga dan masyarakat. Mereka pun enggan berobat sehingga justru risiko menularkan ke orang lain menjadi lebih besar,” tuturnya.

Fachrudin menceritakan, di akhir bulan Desember, masih ada jenazah orang HIV/AIDS termasuk modinnya, enggan mensucikan dan mengkafani penderita HIV/AIDS. Sehingga, para ODHA sendiri yang harus mensucikannya. “Kasian kalau seperti ini, untuk itulah, kami membentuk kelembagaan peduli AIDS, agar masyarakat lebih peduli,” katanya.

Saat ini, Kasus HIV/AIDS di Kota Ukir menduduki peringkat kedua dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah, dibawah kota Semarang. Sedangkan, terbanyak berada di Kecamatan Bangsri. Kendati dari sisi moralitas data pengidap HIV-AIDS ini sedikit mencoreng nama Jepara, namun dari sisi medis memiliki dampak positif. Dia menyebut kasus HIVAIDS layaknya gunung es. Sedikitnya data di daerah lain bukan berarti di daerah itu hanya sedikit pengidapnya. “Data kami banyak karena kita berhasil melacak para pengidap HIV-AIDS, sehingga kita bisa lebih mengontrol penyebaran penyakit ini agar tidak semakin banyak,’’ tuturnya.

Saat melaksanakan sosialisasi ke desa, Fakhrudin selalu menggandeng ODHA, agar masyarakat yang sebelumnya ragu dan bahkan takut, agar tidak takut lagi dan terbuka dengan para ODHA. Untuk tanggal 23 Februari nanti, ia juga akan menggandeng direksi perusahaan, agar bisa menjelaskan tentang HIV sehingga dapat menguatkan Perusahaan Peduli AIDS. “Harapannya, mereka yang positif HIV/AIDS, juga mempunyai kesempatan yang sama untuk bekerja di perusahaan,” kata dia. (DiskominfoJepara/Dian)