JEPARA – Setelah dilakukan berbagai kajian, termasuk diskusi, yang menghadirikan sejumlah ahli, dan tokoh masyarakat, Bupati Jepara Ahmad Marzuqi, mengeluarkan surat rekomendasi usulan gelar Pahlawan kepada Ratu Kalinyamat.

Surat rekomendasi tertanggal, Senin 18 Maret 2019, diserahkan kepada Yayasan Dharma Bakti Lestari, untuk segera ditindaklanjuti dengan penyiapan berkas-berkas persyaratan.

Perwakilan Yayasan Dharma Bakti Lestari, Nur Hidayat menyampaikan, pihaknya segera akan kami lengkapi berkas untuk segera dikirimkan ke Jakarta.

Selain rekoemndasi, sejumlah rangkain kegiatan usulan gelar Pahlawan Nasional untuk Ratu Kalinyamat sudah dilakukan. Itu seperti mengunjungi situ-situs yang diduga peninggalan Ratu Kalinyamat. Kajian akademik juga sudah dilakukan dengan melibatkan sejumlah sejarawan dan budayawan. Forum diskusi dengan organisasi dan elemen-elemen masyarakat juga sudah kami lakukan. Forum itu sepakat gelar Pahlawan Nasional memang layak diberikan untuk Ratu Kalinyamat.

Dalam waktu dekat seminar nasional mengupas sosok Ratu Kalinyamat juga akan digelar. Saat ini pihaknya tengah mengumpulkan sejumlah berkas persyaratan pendukung.

Kami juga sudah pernah mengusulkan kepada pemerintah pusat. Tahun 2005 bersama pusat penelitian dari Universitas Diponegoro dan tahun 2016 bersama UGM (Universitas Gajah Mada),” ujar Bupati Jepara Ahmad Marzuqi dalam sambutannya yang dibacakan Kabag Kesra Pemkab Jepara, Suhendro, baru baru ini.

Bupati Jepara mengaku kecewa lantaran usulannya tak diterima pemerintah pusat. Alasan penolakan gelar pahlawan nasional bagi Ratu Kalinyamat bukan didasarkan sepak terjangnya dalam mengusir penjajah, pemberdayaan ekonomi, dan politik yang menjadi poin penting dalam perjuangannya. Tapi malah justri tapa wudho sinjang rekmo, yang dinilai salah tafsir. “Alasannya tapa wuda sinjang rekma. Kalimat itu kiasan. Jadi yang dimaksud itu bukan bertapa tanpa busana, tapi yang dimaksud itu Ratu Kalinyamat meninggalkan urusan keduniawian,” kata Marzuqi.

Sebagai seorang raja, lanjut Marzuqi, Ratu Kalinyamat meninggalkan kerajaan. Menanggalkan kemewahan sebagai ratu. Kemudian mengasingkan diri ke tempat terpencil. “Ini adalah perjuangan yang sangat luar biasa. Jadi jangan hanya dilihat tapa wuda sinjang rekma karena ada perbedaan penafsiran,” ungkap dia.

Penganugrahan pahlawan nasional, seharusnya lebih didasarkan pada sejauh mana peran sang tokoh dalam perjuangan nasional pada zamannya, kepeloporannya, patriotismenya, dan nasionalismenya. “Saya pikir tulisan penulis Portugis, Diego de Couto menggambarkan Ratu Kalinyamat sebagai Ratu Jepara yang berkuasa. Apalagi ia sudah dua kali menyerang Portugis di Malaka, 1550 dan 1574,” kata dia. (DiskominfoJepara/Dian)