Pemasangan Sistem Peringatan Dini yang dilakukan oleh tim sistem peringatan dini Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan BPBD Jepara.

JEPARA – Kabupaten Jepara kini memiliki Sistem Peringatan Dini (Early Warning System/EWS) bencana alam tanah longsor. Sebanyak 4 unit alat penakar curah hujan dan pengukur rekahan, telah dipasang di Desa Tempur, Kecamatan Keling.

“Kami mendapat bantuan alat ini dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah. Perlu waktu delapan hari untuk menyelesaikan pemasangan sejak Selasa, 2 Juli 2019,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Jepara Arwin Noor Isdiyanto, Selasa (9/7).

Pemasangan dilakukan oleh tim sistem peringatan dini Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Menurut Erwin, pemasangan alat ini diharapkan mampu menekan risiko bencana longsor yang selama ini kerap terjadi di Jepara.

“Makanya Desa Tempur dipilih sebagai lokasi pemasangan karena merupakan salah satu desa yang memiliki risiko tinggi bencana longsor di Provinsi Jawa Tengah,” lanjut dia.

Di Jawa Tengah, total terdapat 15 kabupaten/kota yang mendapat bantuan berupa paket alat deteksi dini tanah longsor. Paket bantuan terdiri tiga unit Ekstensometer (alat pengukur rekahan tanah) dan satu unit Rain Gauge (alat penakar curah hujan).

“Desa Tempur kita pilih menjadi titik lokasi pemasangan alat ini, karena memiliki beberapa kriteria yang patut kami pertimbangan. Secara geografis Tempur dikelilingi lereng Muria yang memiliki risiko tinggi terhadap bencana tanah longsor. Lalu banyaknya jiwa yang terancam, dan ketangguhan pemerintah desa dan masyarakat dalam menghadapi bencana,” imbuhnya.

BPBD Kabupaten Jepara menyerahkan sepenuhnya kepada tim UGM dan BPBD Provinsi Jawa Tengah untuk berkoordinasi dengan pemerintah desa, forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) desa, dan masyarakat dalam menentukan dan memasang alat di titik-titik yang memiliki tingkat kerentanan dan risiko tinggi.

“Sepenuhnya kami serahkan tim untuk menilai tingkat kerentanan dan tingkat risikonya, sehingga alat deteksi dini ini bermanfaat bagi warga dalam pengurangan risiko bencana saat dibutuhkan,” tandasnya.

Arwin meminta kerja sama dari pemerintah desa, Forum PRB, dan seluruh warga Tempur turut menjaga dan merawat alat ini.

Ketua tim pemasangan sistem peringatan dini UGM Nathannael Kresna Yudha mengatakan, kegiatan ini diawali dengan melakukan risk assesment pada sembilan titik calon pemasangan alat yang sebelumnya telah diusulkan oleh PRB desa dan BPBD. Risk assesment dilakukan supaya fungsi alat sesuai dengan kondisi geologi daerah pemasangan.

“Harapan kami, alat ini tepat sasaran dan tepat guna dalam penanggulangan bencana di Kabupaten Jepara, tepatnya Desa Tempur,” katanya.

Berdasarkan kajian kerentanan, analisis risiko, dan hasil koordinasi dengan pemerintah desa dan forum PRB, ditentukan tiga titik lokasi pemasangan ekstensometer yaitu di Dukuh Kemiren, Dukuh Petung, dan Dukuh Karangrejo.

“Sementara Rain Gauge dipasang di depan kantor Petinggi Tempur,” tuturnya.

Dalam pemanfaatannya, warga berbagi peran dan tugas untuk melengkapi perangkat-perangkat program.

“Tahapan lain yang perlu dilakukan adalah pembentukan tim siaga bencana, pembuatan peta kerentanan dan jalur evakuasi. Lalu instalasi alat deteksi dini, penyusunan prosedur tetap, dan gladi lapang atau simulasi evakuasi mandiri. Ini bertujuan untuk melatih respon dan kewaspadaan tim siaga bencana dan masyarakat terhadap bunyi tanda peringatan yang dipancarkan oleh alat deteksi,” jelas lulusan Geologi UGM.

“Di akhir tahapan progam akan kegiatan membangun komitmen bersama pemerintah desa, forum PRB dan BPBD untuk bersama-sama menjaga dan merawat peralatan agar memberi kemanfaatan bagi masyarakat Desa Tempur untuk mewujudkan ketangguhan masyarakat dalam penanggulangan bencana,” tambahnya. (DiskominfoJepara/Sulismanto)