Membuat Anyaman dari Pandan.

JEPARA – Pandan duri bagi sebagian warga Desa Bantrung Kecamatan Batealit, umumnya digunakan sebagai bahan baku pembuatan anyaman kursi dan tikar. Tak heran jika desa ini dari dulu terkenal sebagai desa pengerajin anyaman pandan di Jepara. Namun demikian fenomena itu masih belum dioptimalkan dengan maksimal.

Salah seorang pengrajin anyaman pandan Ahmad Sodiqin, mengatakan hampir seluruh pengrajin membuat anyaman untuk kursi. Ada juga yang memproduksi tikar, tapi yang mengerjakannya sudah berusia senja. “Itupun ada hanya satu atau dua orang saja yang membikin tikar,” ujar dia, Minggu (28/7).

Selain adanya regenerasi pengrajin, ia berharap muncul inovasi karya yang dapat dihasilkan dari pandan duri. Sodiqin bercerita, jika dulu pernah ada yang melatih membuat aneka kerajinan. Tapi hanya sebentar dan berhenti begitu saja tanpa ada kelanjutannya.

Menangkap potensi besar itu, mahasiswa peserta KKN alternatif Unisnu Jepara menciptakan berbagai inovasi produk. Seperti hiasan dinding, tempat tisu, vas bunga, suvenir, dan benda bermanfaat lainnya dari bahan baku pandan duri. “Mengubah limbah anyaman pandan menjadi sebuah benda bermanfaat, harus melawati sejumlah tahap,” demikian diungkapkan Ketua KKN alternatif Desa Bantrung Istijab Yudha.

Pertama-tama, daun pandan dipisahkan antara daun dan durinya menggunakan benang nilon. Kemudian disortir sesuai ukuran lebar daun, lalu dijemur hingga mengering. Setelah jadi kering, pandan dibentuk menjadi untaian tali dan dianyam menjadi pola lembaran. “Diirat dengan punggung pisau dahulu agar daun pandan kering bisa membuka dan mudah dibentuk,” terang dia dihadapan generasi milenial.

Proses berikutnya, adalah pengeleman untaian dan anyaman yang telah terangkai di pola atau kerangka yang ada. Dengan tujuan memperkuat kerajinan supaya tahan lama. Setelah rampung, kerajinan yang ada kembali dijemur dibawah sinar matahari langsung. Memasuki tahap akhir, kerajinan diberi sentuhan artistik pewarnaan, dan ditambahkan pernak-pernik.

Tidak hanya terbukti menciptakan aneka barang berguna bernilai ekonomis, sekaligus diminati masyarakat. Mahasiswa berjumlah 15 orang dibawah bimbingan dosen Muhammad Husni Arafat, juga menghidupkan minat generasi muda menggeluti kerajinan pandan. (DiskominfoJepara/AchPr)