Jembul Tulakan. (Foto Dok. Diskominfo Jepara)

JEPARA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara ikut meramaikan rangkaian Pesta Rakyat Jawa Tengah, Hari Ulang Tahun (HUT) ke-69 Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng yang dipusatkan di Kabupaten Wonogiri, pada Ahad (25/8) sore. Kali ini, delapan puluh duta seni Jepara mengusung tradisi Jembul Tulakan, yang sudah menjadi bagian dari masyarakat Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo.

Parade diawali Kabupaten Brebes yang menampilkan tarian alat tangkap ikan tradisional. Kemudian disusul Kabupaten Pemalang dengan kesenian Kentongan dan Kabupaten Tegal pasukan panah. Kabupaten Jepara sendiri berada diurutan ketiga belas setelah Kabupaten Rembang.

Penampilan duta seni Jepara, dan tiga jembul raksasa cukup menyita perhatian masyarakat Wonogiri. Sepanjang jalan ribuan penonton memberikan sambutan yang meriah bagi kontingen Jepara. Begitu juga Ny. Atikoh Ganjar Pranowo dan sejumlah pejabat terkait yang duduk di panggung kehormatan.

Jembul Tulakan Pentas di Wonogiri. (Foto Dok. Diskominfo Jepara)

Pelaksana Tugas (Plt.) Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Zamroni Lestiaza mengatakan, kontingen duta seni Kabupaten Jepara kali ini mengusung tradisi Jembul Tulakan. Jembul Tulakan ini, juga berkaitan kisah Ratu Kalinyamat saat melawan Arya Penangsang, yang hingga saat ini terus dilestarikan oleh masyarakat Tulakan.

“Dipilih karena ini kan pestanya rakyat. Jembul Tulakan merupakan simbol tradisi sedekah bumi warga Desa Tulakan, yang dibawa ke even hari jadi Jateng,” kata dia.

Dikatakan, disisi lain kegiatan ini untuk memperkenalkan kepada masyarakat Jateng bahwa Jepara punya tradisi unik. “Jika biasanya sedekah bumi desa yang diarak adalah hasil bumi. Namun untuk jembul yang diarak berupa iratan-iratan bambu yang disusun seperti gunungan besar yang menarik,” kata dia.

Jembul Tulakan menurut cerita warga setempat, diyakini bisa menjadi tolak bala. Sekaligus membantu mereka agar mendapatkan hasil pertanian yang melimpah.

“Kami membawa pesan, untuk terus menjaga kearifan lokal masyarakat. Jembul yang dibawa tidak hanya berupa gunungan, namun memiliki makna yang mengikat,” katanya.

Sutradara Pementasan Rhobi Sani mengatakan, kali ini membawa delapan puluh personil yang terdiri dari tiga puluh penari wanita dan sisanya adalah penari laki-laki, pengarak jembul dan personil musik gamelan.

Dikatakan, persiapan ini sudah jauh hari dilakukan. Mulai dari materi hingga personil yang akan tampil. “Kami menyaring dari berbagai sekolah di Kota Jepara, Kecamatan Mlonggo, Bangsri, Donorojo, Tahunan dan Kedung. Semuanya berkolaborasi,” katanya.

Dalam parade seni, duta seni berjalan kaki sekitar 2 Kilometer dengan finish lapangan Giri Krida Bakti. Sepanjang perjalanan dari garis start mereka menari dan melakukan display.

Salah satu peserta Ayu Emes mengaku senang bisa tampil dalam even Jawa Tengah. Meskipun sudah sering mengikuti kegiatan parade budaya, menurutnya kali ini agak berbeda. “Butuh stamina yang ekstra, karena tarian yang kami tampilkan sangat menguras tenaga. Selain itu sepanjang perjalanan kita harus melakukan menari,” kata dia. (DiskominfoJepara/Dian)