Kirab pusaka di makam Mbah Langgi, yang merupakan cikal bakal masyarakat Desa Banjaragung. (Foto Dok. Diskominfo Jepara)

JEPARA – Menjaga kearifan budaya lokal, masyarakat Desa Banjaragung, Kecamatan Bangsri bersama Yayasan Marga Langit, menggelar kirab pusaka di makam Mbah Langgi, yang merupakan cikal bakal masyarakat Desa Banjaragung. Kegiatan yang dikemas dalam prosesi buka luwur pada, juga diikuti kerabat keraton Surakarta dan Yogyakarta.

“Kegiatan ini dilaksanakan setiap bulan Suro, selain buka luwur makam Mbah Langgi kita juga melakukan kirab pusaka,” ungkap Ketua Yayasan Marga Langit, Hendro Suryo Kartiko, pada Rabu (11/9) sore.

Para peserta kiraba berjalan sekitar tiga kilometer, dari Yayasan Marga Langit, menuju Makam Mbah Langgi. Dengan membawa pakaian jawa lengkap, mereka membawa berbagai pusaka berupa keris dan tombak. Barisan depan tiga orang membawa luwur putih, cempolo (alat pemukul kotak wayang) dan keris. Kemudian diikuti pasukan yang membawa bunga dan diikuti pasukan pengarak pusaka.

Sesampai di Makam Mbah Langgi, luwur tesrebut diserahkan kepada juru kunci makam untuk digantikan dengan yang baru. Usai diganti luwur, satu-persatu pasukan pusaka meletakkan berbagai pusaka di samping makam. Kemudian, mereka melakukan doa untuk keselamatan warga Banjaragung.

Dikatakan, kirab pusaka warga desa ini merupakan tradisi dalam menjaga kearifan budaya lokal, setiap bulan Suro. Bagi masyarakat Banjaragung, pusaka merupakan sebuah karya seni yang harus dijaga kelestariannya. “kita berharap dengan makam leluhur ini, bisa mengenang perjungan beliau. Mbah Langgi merupakan salah satu keturunan wali, yang dimakamkan di Banjaragung” katanya.

Menariknya, tradisi kirab pusaka dan buka luwur ini mendapat sambutan hangat dari kerabat keraton surakarta dan yogyakarta yang turut hadir. Selain untuk menjaga kearifan budaya lokal, tradisi ini menjadi langkah untuk memupuk kerukunan masyarakat.

Dalam kidung yang dilantunkan, mengisahkan perjalanan hidup Mbah Langgi. Ia adalah salah satu cucu dari Sunan Gresik yang berguru di Parakan. Kemudian ia diambil Ratu Kalinyamat melalui Patih Badarduwung. Di Jepara ia bertugas membantu Ratu Kalinyamat melakukan penyerangan keMalaka. Dua kali gagal melakukan penyerangan, ia meminta kepada sang ratu untuk menyendiri. Saat itulah ia pergi ke sebuah tempat, dan meninggal disitu. Hingga sekarang, tempat tersebut berkembang menjadi Desa Banjaragung. (DiskominfoJepara/Dian)