Model membawakan batik. (Foto Dok. DiskominfoJepara)

JEPARA – Industri batik yang belakangan semakin berkembang, diharapkan bisa menjadi kekuatan ekonomi baru di Jepara. Hal tersebut dikatakan Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Jepara Dian Kristiandi dalam sambutan tertulis yang dibacakan Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan, Umar Chotob, Sabtu (2/11/2019), di depan para perajin batik Jepara yang tergabung dalam Paguyuban Batik Biyung Pralodo.

Sambutan disampaikan saat paguyuban tersebut menggelar sarasehan “Batik dan Identitas Jepara dalam Motif dan Pewarnaan Lama” dilangsungkan di Joglo Nalendra Galery, Panggang Jepara. Acara ini digelar bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Budaya, Undip, Semarang. Di sela sarasehan, diluncurkan juga buku Batik Jepara, Identitas dan Perkembangannya.

“Saya harap industri batik bisa menjadi penopang baru ekonomi daerah dan masyarakat. Itu bisa terjadi kalau berkembang dengan baik. Ikutilah selera pasar tanpa mengesampingkan patron lokal yang ada,” katanya.

Jepara yang sempat kehilangan mata rantai putaran sejarah batik Jepara, kata Andi, kini tersambung lagi dengan prrkembangan aktivitas kerajinan batik oleh anggota paguyuban.
Pada kesempatan tersebut, Plt. Bupati Jepara juga mengapresiasi terbitnya buku sejarah batik tersebut.

Ketua Paguyuban Biyung Pralodo, Suyanti menyebut terbitnya buku ini sudah lama dinantikan. Dengan buku ini, kata dia, budaya membatik dan sejarah batik Jepara bisa terdokumentasikan untuk generasi mendatang. Buku sejarah ini bisa mengingatkan siapapun tehadap sejarah dan budaya Jepara.

Sementara itu, ketua tim penulis buku Batik Jepara, Identitas dan Perkembangannya, Alamsyah mengatakan, selain buku tersebut, tim Undip banyak menulis tentang Jepara, mulai dari hal-hal terkait sejarah, perkembangan peradaban, hingga kegiatan industri. Banyak di antaranya yang belum dibukukan.

“Setelah ini kami akan membuat catatan rekomendasi yang kami sampaikan kepada parapihak di Jepara,” katanya.

Di antara rekomendasi itu meminta pemerintah dan DPRD sesuai kewenangannya untuk membuat regulasi yang memihak perkembangan batik Jepara. Juga meminta kepada perajin menyediakan batik di kisaran harga Rp85 ribu per potong untuk kebutuhan seragam siswa.

“Kalau mau memproduksi batik yang harga jualnya Rp2 juta silakan. Tapi sediakan juga yang harganya terjangkau,” pintanya.

Masyarakat juga diminta membiasakan diri memakai batik pada aktivitas formal maupun informal. (DiskominfoJepara/Sulismanto)