Sarasehan dalam rangka pengembangan ekspor/impor di Pendopo Kabupaten Jepara. (Foto Dok. Diskominfo Jepara)

JEPARA – Berdasarkan data Disperindag Kabupaten Jepara, kinerja ekspor furnitur dari kayu pada tahun lalu mencapai lebih dari 179 dolar AS atau naik 7,3 persen, dibanding tahun sebelumnya sebesar 166,8 juta dolar AS. Komoditas yang digeluti 386 eksportir tersebut, pada semester pertama tahun ini telah mencapai 98,7 juta dolar AS.

Ratib Zaini Kepala Disperindag Jepara

Menurut Ratib Zaini Kepala Disperindag Jepara, secara kumulatif pada periode Januari hingga Juni tahun ini, nilai ekspor telah mencapai 187,8 juta dolar AS, atau meningkat 10,65 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Demikian disampaikannya di Pendopo Kartini Jepara, dalam sarasehan yang dihadiri 80 pelaku ekspor di Kabupaten Jepara, Rabu (27/11/2019). “Nilai ekspor Kabupaten Jepara dari 2015 sampai 2019 semester satu alhamdulillah dari tahun ke tahun mengalami peningkatan,” ujar dia.

Kenaikan yang sama juga terjadi atas ekspor produk garmen dan sepatu, yang mencapai 150,3 juta dolar AS atau naik 86,4 persen, dari 80,6 juta dolar AS. Selanjutnya disusul komoditas kayu olahan yang ikut tumbuh pada tahun lalu, yakni naik sebesar 45,5 persen dari 5,5 juta dolar AS menjadi 8 juta dolar AS.

Dibuka Asisten II Sekda Jepara Mulyaji, sarasehan siang itu turut menghadirkan beberapa narasumber berkompeten, baik dari KLHK-RI maupun dari Kantor Bea Cukai Kudus. Di samping menyampaikan materi teknis mereka juga melakukan jajak pendapat, hal ini guna menemukan solusi atas hambatan yang dirasakan eksportir di Jepara. “Melalui kegiatan ini harapannya untuk peningkatan ekspor di Kabupaten Jepara akan semakin mengalami peningkatan,” kata Ratib.

Sementara itu, Mulyaji Asisten II Sekda Jepara yang mewakili Plt. Bupati Jepara, menilai selain investasi kontribusi ekspor juga dapat mempercepat laju pertumbuhan ekonomi daerah. Untuk itu, sinergitas menjadi sebuah syarat mutlak demi mewujudkan Jepara yang lebih sejahtera. “Sinergitas yang semakin kuat antara pemerintah, pelaku usaha, asosiasi, dan stakeholder juga mutlak diperlukan,” ujar Mulyaji.

Menurutnya, Pemkab Jepara pun telah melakukan sejumlah upaya untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi tersebut. Di antaranya, menurunkan ekonomi berbiaya tinggi (high cost economy) dengan menata birokrasi, dan memangkas regulasi penghambat investasi. Penyederhanaan proses perizinan melalui penerapan sistem perizinan berusaha terintegrasi (OSS). Peningkatan kualitas SDM melalui sertifikasi profesi bagi tenaga ahli ukir, serta meningkatkan produktivitas melalui sistem pendidikan dan pelatihan vokasi. (DiskominfoJepara/AchPr)